Lari China yang Tak Secepat Sebelumnya

23 April 2016 Lari China yang Tak Secepat Sebelumnya

 Tim bulutangkis China yang selama ini dianggap dominan di kompetisi bulutangkis dunia terlihat limbung di awal 2016.

China baru meraih empat gelar dari empat turnamen super series/premier yang digelar. Bagi negara lain, jumlah tersebut merupakan jumlah gelar yang memuaskan, namun bagi China hal tersebut jelas merupakan sebuah kemunduran besar.

Tahun lalu, China sudah meraih 11 gelar dari empat turnamen awal super series/premier, sama halnya dengan yang mereka dapatkan pada tahun 2014.

Pada tahun ini, China memang selalu meraih gelar di empat turnamen yang sudah berlangsung, All England, India, Malaysia, dan Singapura. Namun pasukan Tirai Bambu hanya mendapat masing-masing satu gelar di turnamen tersebut.

Lin Dan, Lu Kai/Huang Yaqiong, Tang Yuanting/Yu Yang, dan Fu Haifeng/Zhang Nan adalah segelintir nama yang sudah meraih gelar di awal tahun ini dari banyaknya pemain bintang yang dimiliki China.

Tahun 2016 baru dimulai dan China patutlah khawatir terhadap kondisi mereka. Li Yongbo pernah dengan jemawa berharap kekuatan bulutangkis dunia bisa kembali merata dan tak dikuasai oleh China dan peta persaingan 2016 ini adalah kenyataan dari kata-kata yang pernah ia lontarkan.

Bila dibandingkan jelang berlangsungnya Olimpiade 2012, kekuatan dan kepercayaan diri China jelang Olimpiade 2016 ini menurun drastis.

Sektor Putri yang Menyedihkan

Nomor tunggal putri yang jadi nomor andalan China kini tak lagi bernasib cerah. Generasi lawas China empat tahun lalu, Wang Yihan, Wang Shixian, Li Xuerui mulai kesulitan menghadapi serbuan bintang-bintang muda yang banyak jumlahnya.

Carolina Marin, Ratchanok Intanon, Nozomi Okuhara, dan Akane Yamaguchi adalah nama-nama anyar yang muncul dalam tiga tahun terakhir. Rombongan bintang muda tersebut masih harus ditambah pemain-pemain senior macam Saina Nehwal dan Sung Ji Hyun.

Dalam 16 super series/premier terakhir, hanya tiga gelar yang berhasil diamankan tunggal putri asal China. Tahun ini pun mereka belum bisa mengamankan satu gelar dari empat turnamen yang telah berlangsung.

Sama halnya dengan tunggal putri, nomor ganda putri China tak lagi semenakutkan beberapa tahun silam.

Bila jelang Olimpiade 2012 China memiliki dua ganda maut bernama Wang Xiaoli/Yu Yang dan Tian Qing/Zhao Yunlei, maka jelang Olimpiade 2016 China justru masih dalam keraguan memilih mana ganda yang bisa diandalkan.

Deretan pemain ganda China, yang kini mulai dikombinasikan satu sama lain, mulai mendapat ancaman dari ganda putri negara-negara lainnya.

Ayaka Takahashi/Misaki Matsutomo, Greysia Polii/Nitya Krishinda Maheswari, Kamilla Rytter Juhl/Christinna Pedersen, dan sejumlah ganda lainnya bisa bertarung seimbang melawan ganda China di atas lapangan.

Tunggal Putra Paling Berpeluang

Bila di dua nomor unggulan, tunggal dan ganda putri, China mulai kehilangan taringnya, hal serupa juga terjadi di nomor ganda putra.

China kesulitan menemukan pengganti duet Cai Yun/Fu Haifeng yang begitu perkasa empat tahun lalu.

Para ganda muda China seperti Liu Xiaolong/Qiu Zihan dan Chai Biao/Hong Wei tak mampu menapak ke level yang pernah ditempati Cai Yun/Fu Haifeng.

Alhasil kini China mengandalkan ganda eksperimen lewat wujud Fu Haifeng/Zhang Nan. Meskipun terbukti mampu bersaing di level atas dan memenangkan beberapa turnamen super series, namun mereka belum pernah berhasil meraih titel bergengsi seperti All England dan Kejuaraan Dunia.

Di nomor ganda campuran, Zhang Nan/Zhao Yunlei yang tampil dominan sepanjang 2015 belum mendapat gelar di tahun 2016 ini. 

Selain pesaing-pesaing lawas macam Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir dan Joachim Fischer Nielsen/Christinna Pedersen, kini nama-nama baru seperti Ko Sung Hyun/Kim Ha Na dan Praveen Jordan/Debby Susanto juga siap menggoyang dominasi mereka.

Kegagalan Zhang Nan/Zhao Yunlei mendapatkan gelar sejauh musim 2016 berjalan setidaknya cukup menurunkan rasa percaya diri mereka dalam pertarungan dengan ganda lainnya.

Nomor tunggal putra mungkin jadi salah satu nomor yang masih bisa berdiri dengan kepala tegak. Meskipun tanpa regenerasi, duo Chen Long dan Lin Dan masih jadi jaminan China bisa meraih medali emas di Olimpiade Rio de Janeiro. 

Dengan diskorsnya Kento Momota, pesaing terberat duo China untuk mendapatkan emas hanya ada pada sosok Lee Chong Wei dan Jan O Jorgensen.

Namun sosok Chong Wei tentu tak bisa ditepikan begitu saja mengingat motivasinya untuk mendapat emas di Olimpiade kali ini bakal jauh lebih besar dibandingkan di dua Olimpiade sebelumnya.

Ancaman Nyata Bagi China

Peraturan Olimpiade yang mengharuskan tiap negara maksimal hanya memiliki dua wakil di Olimpiade membuat China yang memiliki keunggulan kuantitas dibandingkan negara lainnya tak bisa memaksimalkan hal tersebut.

China memang masih jadi favorit kuat untuk meraih banyak emas Olimpiade di cabang olahraga bulutangkis, namun jarak mereka dengan negara lain semakin rapat.

Bila dibandingkan dengan materi pemain untuk Olimpiade empat tahun lalu, tim China hampir tak mengalami perubahan berarti. Dengan kata lain China pun tengah sedikit bermasalah dengan proses regenerasi.

China masih jadi favorit untuk meraih banyak medali emas dibandingkan negara lainnya di Olimpiade nanti. Namun jarak mereka dengan para pesaing semakin rapat dan dekat. Dan Li Yongbo tentunya tak lagi dapat mengeluarkan kalimat merendah sambil tetap membusungkan dadanya.

Sumber: CNN Indonesia