Ujicoba Score Baru di Celcom Axiata Malaysia International Youth U-19

31 August 2016 Ujicoba Score Baru di Celcom Axiata Malaysia International Youth U-19

Federasi Bulutangkis Internasional-Badminton World Federation (BWF) akan segera menguji coba penggunaan sistem skor baru pada laga bulutangkis pada awal September ini dalam ajang turnamen bulutangkis Celcom Axiata Malaysia International Youth U-19 yang akan digelar di Stadion Negeri, Kuala Terengganu, Malaysia dari 6-9 September 2016.

Alasan akan dilakukan perubahan pada aturan skor bulutangkis untuk mengoptimalkan efisiensi waktu durasi pertandingan.

Pada aturan skor yang baru ini, akan menggunakan 5 set dengan 11 poin setiap setnya. Selain itu pada skor 10-10 tidak ada 2 point setting (sudden death). Seperti diketahui aturan yang digunakan sekarang adalah 3×21. Sistem poin 3×21 sendiri seperti diketahui digunakan pada 2005 lalu dan menggantikan sistem poin 3×15.

Wacana penggunaan sistem poin 11 pertama kali dicetuskan dalam Grand Meeting Tahunan BWF pada tahun 2014 lalu. Saat itu yang menjadi pertimbangan adalah karena rata-rata durasi pertandingan bulutangkis meningkat karena perubahan sistem pada 2006 silam, dan BWF pun telah memutuskan lagi untuk mencoba sistem pertandingan dengan 5×11 poin.

Indonesia sendiri pernah melakukan ujicoba terhadap aturan ini pada Indonesia internasional Challenge 2014.

Mendapat Penolakan

Banyak pihak yang menolak sistem skor baru ini. Salah satunya dari Federasi Bulutangkis Malaysia (BAM) melalui Wakil Presidennya, Datuk Seri Mohamad Norza Zakaria mengemukakan bahwa sistem skor 3×21 lebih ideal dan seimbang dibandingkan dengan sistem poin 11×5 diusulkan BWF.

Selain itu, sistem skor yang telah bergulir saat ini menuntut kekuatan fisik dan mental terbaik dari setiap atlet. “Saya pikir sistem penilaian saat ini harus dipertahankan karena membutuhkan tingkat tertinggi dari kekuatan fisik dan mental pemain serta membutuhkan tingkat kebugaran maksimum yang dianggap oleh banyak untuk menjadi identik dengan olahraga,” ungkap Mohamad Norza.

Tak hanya itu, Legenda bulutangkis Cina, Lin Dan menyatakan ketidak setujuannya terhadap rencana ini. Lin Dan mengatakan perubahan yang terus-menerus bisa membingungkan pemain dan para pecinta bulutangkis.

Sumber: aktualita. co

Olimpiade 2020 Rexy Mainaky Ingin Mengulang Masa Alan Budikusuma

30 August 2016 Olimpiade 2020 Rexy Mainaky Ingin Mengulang Masa Alan Budikusuma

Bulu tangkis Indonesia kembali merebut medali emas pada Olimpiade 2016 yang berlangsung di Rio de Janeiro, 5-21 Agustus. Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir meraih emas setelah menundukkan Chan Peng Soon/Goh Liu Ying (Malaysia) pada babak final.

Pencapaian tersebut mengembalikan tradisi emas pada ajang Olimpiade. Pengurus Pusat Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PP PBSI) pun tidak mau terlena.

Mereka langsung bergerak untuk mempersiapkan atlet yang akan tampil pada Olimpiade Tokyo 2020.

"Atlet sudah akan langsung diarahkan ke sana (Olimpiade 2020). Dalam dua tahun ke depan, kami akan all out untuk mempersiapkannya," kata Kabid Binpres PP PBSI Rexy Mainaky, dalam perbincangan dengan JUARA di pelatnas bulu tangkis, Cipayung, Jakarta, beberapa waktu lalu.

"Kami tidak ingin sekadar lolos, tetapi untuk proyeksi medali karena kami berharap bisa mendapat lebih dari satu medali di Tokyo," ucap Rexy.

Menuju Olimpiade 2020, PBSI akan menurunkan atlet pada ajang SEA Games Malaysia 2017 dan Asian Games 2018 lebih dulu.

"Itu merupakan target jangka menengah. Di SEA Games, kami akan menurunkan pemain muda seperti Gregoria Mariska (tunggal putri). Begitu pula saat Asian Games, pemain pelapis juga harus mulai diturunkan," ujar Rexy.

"Dalam dua tahun kami harus sudah bisa mengamankan rangking 8 besar untuk nomor ganda dan 6 besar untuk nomor tunggal. Kalau jumlah atlet yang bisa menembus peringkat tersebut banyak, itu bisa lebih bagus lagi," ucap Rexy.

Pada nomor tunggal putra, Rexy berharap Indonesia bisa memiliki lima pemain yang bisa diandalkan selain Jonatan Christie, Anthony Sinisuka Ginting, dan Ihsan Maulana Mustofa.

"Kami ingin mengulang masa Alan Budikusuma yang memiliki pemain tunggal lebih dari lima orang pada Olimpiade Barcelona 1992," tutur Peraih Emas Olimpiade Atlanta 1996 bersama Ricky Soebagja ini.

Untuk mewujudkan program tersebut, Rexy berharap partisipasi daerah agar bisa menciptakan bibit-bibit pemain berkualitas.

"Program pembinaan sudah jelas dan ada parameternya. Selanjutnya, kami ingin agar 34 Pemerintah Provinsi (Pemprov) memiliki kepedulian. Caranya, dengan meningkatkan kualitas pelatih daerah," kata Rexy.

"Kami sudah menjalankan program coaching clinic ke beberapa daerah dan hasilnya bisa dilihat pada sirkuit nasional," ucap Rexy.

Selain PBSI, Rexy juga berharap keterlibatan dari pemerintah untuk memperhatikan aspek pendidikan atlet.

"Misalnya, dengan mempermudah atlet yang masih bersekolah untuk mendapat dispensasi saat harus bertanding. Dengan begitu, ada kesinambungan program antara PBSI dengan pemerintah," ucap Rexy.

Setelah Olimpiade, para pebulu tangkis yang tidak berangkat ke Rio akan turun pada Indonesian Masters yang digelar 6-11 September di Balikpapan.

Sumber: Juara. net

Richard Mainaky Kombinasikan Cara Tong Sin Fu dan Christian Hadinata Untuk Program Latihan

29 August 2016 Richard Mainaky Kombinasikan Cara Tong Sin Fu dan Christian Hadinata Untuk Program Latihan

Richard Mainaky dinilai sebagai pelatih bertangan besi yang tak segan memberikan latihan-latihan berat kepada para pemainnya. 

Cobalah bertanya kepada Liliyana Natsir atau Tontowi Ahmad soal yang tak disukai dari Richard. Mereka kompak menjawab: "Latihannya berat!"

Richard mengakui porsi latihan yang diberikan kepada anak asuhnya tak hanya berat tapi super berat. Dia tak pernah menyepelekan kekuatan pemain putri. Dia menganggap pemain putri justru lebih kuat ketimbang para pemain putra. 

"Latihan-latihan yang saya berikan kepada pemain bukan menyiksa lho. Kalau ganda campuran memang harus latihan berat karena satu tim diisi satu pemain putri dan satu putra. Nah, lawan akan selalu menekan dam mengincar pemain putri. Jadi mau tidak mau standar latihan harus tinggi. Kalau yang laki berlatih 200 seri yang cewek juga. Kemampuan fisik para pemain putri mau tidak mau harus sama dengan yang laki-laki," kata Richard dalam obrolan dengan detikSport. 

"Saya memang tidak punya kasihan kepada pemain putri kalau di lapangan. Saya memahami perempuan itu halus, tapi jangan diikuti sebab nantinya mereka malah akan terbawa perasaannya. 

"Kenapa saya kok bisa tega? Karena saya berpengalaman mempunyai anak. Istri saya dan para perempuan lain bisa sembilan bulan mengandung dan bisa melahirkan bayinya. Itu bukti perempuan lebih kuat dari laki-laki," tutur dia. 

Selain itu Richard pernah menyaksikan tangan besi pelatih pelatnas PBSI yang menjadi pelatih tim nasional China, Tong Sin Fu. Dari sosok yang lain, Christian Hadinata, dia mendapatkan cara-cara melatih dengan bersikap kebapakan. 

"Tong Sin Fu adalah pelatih yang otoriter sedangkan Christian bisa menyentuh perasaan paling dalam para pemain. Saya kombinasikan dua hal itu," tutur dia. 

Richard sendiri memang sosok pelatih yang kreatif dan tak mau ketinggalan zaman. Dia piawai mengembangkan variasi latihan untuk para pemainnya. Richard selalu mempunyai metode baru mengikuti perkembangan permainan bulutangkis yang makin cepat. Dia juga cukup terbuka untuk mengajak pihak lain demi prestasi anak asuhnya. 

"Saya sering mengkhayalkan metode-metode latihan baru. Kemudian saya praktikkan. Saya kan bekas pemain, saya kombinasikan pengalaman dan sistem latihan orang luar. Sebisa mungkin semua latihan saya yang terapkan tidak ada yang tidak berfungsi," ucap dia. 

"Menjelang olimpiade saya lihat prestasi Owi dan Butet kurang bagus. Saya libatkan psikolog dari Satlak Prima. Ternyata berhasil bukan," tutur Richard. 

Sumber: detik.sport. com

Susi Susanti dan Alan Budikusuma Ramalkan Nasib Bulutangkis Indonesia di Olimpiade 2020

27 August 2016 Susi Susanti dan Alan Budikusuma Ramalkan Nasib Bulutangkis Indonesia di Olimpiade 2020

Tim Indonesia diprediksi akan kembali mencapai puncak kejayaan di ajang Olimpiade Tokyo 2020.

Keyakinan tersebut tak terlepas dari impresifnya penampilan sejumlah pebulutangkis muda Indonesia, seperti di ajang Piala Thomas dan Uber, di Tiongkok pada bulan Mei lalu.

Alan memprediksi, empat kelas tetap jadi andalan yakni, tunggal putra, ganda putra/putri, dan ganda campuran. 

Pada sektor tunggal putra, menurutnya ada empat serangkai yang mulai menunjukkan kematangkan yakni, Ihsan Maulana Mustofa, Jonatan Christie, Firman Abdul Kholik, serta Anthony Sinisuka Ginting.

Sektor ganda putra, dua pasangan Angga Pratama/Ricky Karanda, Kevin Sanjaya Sukamuljo/Marcus Fernaldi Gideon. Lalu di sektor ganda putri, Greysia Polii/Nithya Khrishinda Maheswari tetap jadi tumpuan. 

Belum lagi nama-nama seperti Tiara Rosalia Nuraidah, Anggia Shitta Awanda, maupun Della Destiara Haris yang penampilannya mulai naik.

Sedangkan di ganda campuran, konsistensi Debby Susanto/Praveen Jordan terus terlihat. Selain itu, untuk tunggal putri beberapa pebulutangkis seperti Gregoria Mariska, Hanna Ramadini, hingga Fitriani.

"Okelah, saat ini mungkin mereka masih menjadi pelapis. Namun saya yakin mereka beberapa tahun mendatang akan menjadi harapan tim bulutangkis Indonesia," jelas Alan Budikusuma yang pernah meraih medali emas di ajang Olimpiade Barcelona tahun 1992 lalu, saat tampil di nomor ganda bersama Susi Susanti.

Sementara itu Susi Susanti berharap, atlet bulutangkis tersebut tinggal dimatangkan dan diberi kesempatan untuk tampil di berbagai event guna menambah jam terbang.

Sumber: indosport. com

Anthony Ginting Ingin Tembus Ranking 10 Besar Dunia

26 August 2016 Anthony Ginting Ingin Tembus Ranking 10 Besar Dunia

Bintang muda bulutangkis Indonesia, Anthony Sinisuka Ginting berharap bisa terus naik ke peringkat papan atas dalam waktu dekat sebelum ia memenuhi target besarnya tampil di Olimpiade Tokyo 2020 mendatang.

aat ini atlet berusia 19 tahun tersebut berada di peringkat ke-30 dunia. Posisinya masih tertinggal dari Jonatan Christie yang berada di peringkat 22 dan Ihsan Maulana Mustofa di peringkat 17.

Anthony menilai kuantitas partisipasi dalam suatu kejuaraan bukan menjadi ukuran untuk dapat segera tembus 10 besar.

"Untuk bisa 10 besar, yang penting dapat hasil bagus di setiap turnamen yang diikuti. Walaupun sedikit kompetisi yang diikuti, tapi kalau hasilnya bagus bisa cepat masuk 10 besar," katanya kepada para wartawan di The Terrace, Senayan National Golf Club, Kamis (25/8) sore.

"Pelatih tak terlalu memberikan target pada saya. Namun saya sendiri berharap bisa secepatnya mencapai 10 besar pada akhir tahun ini atau awal tahun depan," kata Anthony.

Berbicara mengenai persaingannya dengan Jonatan dan Ihsan, Anthony mengaku bersaing dengan sehat. Meski demikian ia pun tak menampik bahwa terkadang rasa iri kerap kali muncul dalam dirinya

"Di setiap pertandingan ada rejekinya masing-masing. Iri pasti ada, tapi pasti ada rejekinya juga masing-masing. Kalau menurut saya sih yang penting kerja keras dan tidak menyerah," ucap Anthony.

Untuk turnamen terdekat, Anthony sedang mempersiapkan diri tampil di Indonesian Master pada 6-11 September di Balikpapan.

"Tahun lalu semifinal, tahun ini di Balikpapan minimal semifinal," ujar Anthony.



Berebut Tiket Olimpiade

Dengan adanya persaingan ketat melawan Jonatan dan Ihsan, trio ini jadi tumpuan Indonesia di Olimpiade Tokyo empat tahun mendatang. Anthony sendiri menyadari bahwa ia harus bersaing dengan rekannya untuk bisa mewakili Indonesia di pesta olahraga terbesar di dunia tersebut.

"Itu harapan saya. Olimpiade itu kan mimpi untuk semua atlet, siapa yang tidak mau? Saya juga ingin."

"Dengan generasi di pelatnas hanya ada saya, Jonatan, dan Ihsan, maka tentunya kita sama-sama bersaing untuk mendapatkan itu," tutur Anthony.

Sumber: cnnindonesia. com

Gita Wirjawan Kembali Calonkan Diri Sebagai Ketua Umum PBSI

25 August 2016 Gita Wirjawan Kembali Calonkan Diri Sebagai Ketua Umum PBSI

Gita Wirjawan kembali mencalonkan dirinya sebagai Ketua Umum Pengurus Pusat Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PP PBSI). Hal ini diungkapkan Gita saat ditanya wartawan mengenai rencana ke depannya soal PBSI. 

Gita telah memimpin PBSI sejak 2012. Masa jabatannya akan berakhir pada Musyawarah Nasional PBSI akhir tahun ini. 

“Saya sudah berembuk dengan teman-teman dan memutuskan untuk maju lagi sebagai Ketua Umum PBSI, jika diperkenankan,” kata Gita dalam konferensi pers di pusat bulu tangkis PBSI di Jakarta, Rabu, 24 Agustus 2016.

“Untuk siapa saja yang akan maju nanti, semangatnya haruslah membuat atlet merasakan hasil kepengurusan secara konkret. Jadi, yang maju nanti, seharusnya bukan hanya mau, tapi juga punya kapabilitas,” Gita menambahkan.  

Gita juga membeberkan apa yang telah dia lakukan selama menjabat sebagai ketua umum PP PBSI. Yang dia singgung adalah misinya meningkatkan kesejahteraan atlet, yang sudah dilakukan dengan menerapkan sistem sponsor individual, serta keberhasilan atlet-atlet pemusatan latihan nasional (pelatnas) menjuarai kejuaraan-kejuaraan penting, seperti Kejuaraan Dunia, All England, Asian Games, beberapa kejuaraan super series—kejuaraan dengan kasta tertinggi di bulu tangkis, dan Olimpiade. 

Jika dipercaya kembali menjadi ketua nanti, Gita ingin meningkatkan kesejahteraan atlet-atlet di daerah. “Yang saya maksudkan adalah pengembangan atlet di klub. Saya ingin kesejahteraan mereka di klub juga diperhatikan,” ujarnya.  

“Sekarang, yang terjadi adalah seorang atlet pindah ke klub lain di daerah yang jauh karena klub di tempat asalnya tidak memadahi. Ke depannya, saya ingin mereka tetap dibina di klub asalnya,” Gita menambahkan.  

Gita juga menyinggung penerapan ilmu pengetahun dan teknologi olahraga, yang ingin dia kembangkan lagi di dunia bulu tangkis Indonesia, serta pembinaan usia dini. “Sejauh ini saya sudah cukup puas dengan pembinaan usia dini, tapi kami perlu tingkatkan lagi untuk sektor tunggal putri,” kata dia. 

Mantan menteri perdagangan di era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ini juga menyatakan akan mempertahankan orang-orang kunci di kepengurusan, seperti Rexy Mainaky, peraih medali Olimpiade 1996 yang kini diberi kepercayaan menjadi kepala bidang pembinaan dan prestasi PP PBSI.

Sumber: Tempo. co

Owi/Butet Dapat Tiket Air Asia Gratis Seumur Hidup

24 August 2016 Owi/Butet Dapat Tiket Air Asia Gratis Seumur Hidup

Manajemen Air Asia akan menghadiahkan tiket gratis seumur hidup kepada atlet-atlet dari negara-negara ASEAN yang berhasil memenangkan medali emas pada Olimpiade Musim Panas 2016 di Rio de Janeiro, Brazil.

CEO Grup Air Asia, Tony Fernandes mengatakan, perusahaan juga akan menghadiahkan tiket gratis bagi atlet-atlet dari 10 negara Asean yang sukses meraih medali perak dan perunggu, masing-masing berlaku selama lima dan dua tahun.

Atlet-atlet pemenang medali tersebut nantinya dapat terbang ke lebih dari 120 destinasi yang berada dalam jaringan penerbangan Air Asia dan Air Asia X di Asia, Australia, Timur Tengah, dan Afrika.

"Saya sangat kagum dengan penampilan para atlet seperti Sukanya Srisurat dan Sopita Tanasan dari Thailand, Tontowi Ahmad dan Liliyana Natsir dari Indonesia, juga Joseph Schooling dan Hoang Xuan Vinh yang berhasil mempersembahkan medali emas Olimpiade untuk pertama kalinya bagi Singapura dan Vietnam," katanya dalam siaran pers, Rabu (24/8).

Tony menilai, para juara mampu telah membuktikan bahwa seseorang dapat mencapai apapun selama percaya diri dan berusaha tanpa mengenal lelah untuk mewujudkan mimpi. 

"Atlet-atlet Asean di Rio telah menunjukkan mereka tidak hanya sekadar mampu bertanding, namun juga sanggup menoreh prestasi di kompetisi tingkat dunia. Kami berharap pencapaian ini menginspirasi atlet lain di kawasan ini untuk mengikuti jejak mereka, dan saya menantikan lebih banyak lagi medali dari Asean dalam perhelatan berikutnya," katanya.

Sumber: republika. co. id