Christian Hadinata: Bermain Ganda Sama Juga Sebagai Pasangan Belahan Jiwa

2 September 2016 Christian Hadinata: Bermain Ganda Sama Juga Sebagai Pasangan Belahan Jiwa

Bila dunia bulu tangkis diibaratkan dunia pendidikan tinggi, Christian Hadinata tentunya sudah mencapai tingkatan guru besar.

Christian telah hampir setengah abad berkecimpung di dunia bulu tangkis. Sejak sebagai pemain pada 1970 hingga 1988 dan kemudian berkecimpung di dunia kepelatihan nasional dan sekarang sebagai pembina usia muda di PB Djarum.

Sebagai pelatih, ia berjasa membawa Ricky Subagja/Rexy Mainaky emraih emdali emas Olimpiade Atlanta 1996. Orang sulit melupakan epik saat Christian dan kedua anak asuhnya bergulingan di lapangan hijau Atlanta setelah ricky/Rexy memastikan Indonesia mendapatkan medali emas.

Karena itulah -meski tak lagi di Pelatnas Cipayung- para atlet bulu tangkis yang akan berangkat ke Olimpiade Rio, merasa perlu untuk bertemu dengan sang Guru Besar.
 
Ada satu kata yang terngiang-ngiang di pikiran Tontowi Ahmad/ Liliyana Natsir, pasangan peraih medali emas Olimpiade Rio 2016. Soulmate atau belahan jiwa. kata ini didapat Tontowi/Liliyana dari petuah legenda hidup bulutangkis Indonesia, Christian Hadinata.

Sebelum berangkat ke Rio, Tontowi/Liliyana menjalani karantina di Kudus, Jawa Tengah, pada 11-16 Juli 2016. Pada momen inilah, Tontowi/Liliyana dan Praveen Jordan/Debby Susanto, pasangan ganda campuran pelatnas yang juga berlaga di Rio, mengadakan pertemuan khusus dengan Christian.

Seperti diketahui, tak cuma punya segudang prestasi saat menjadi pemain, Christian merupakan sosok penting dibalik sukses para peraih emas olimpiade, salah satunya Ricky Soebagdja/Rexy Mainaky di Olimpiade Atlanta 1996.

Diceritakan Christian, dalam pertemuan itu, ia memberikan wejangan-wejangan kepada keempat pemain ganda campuran tersebut.

"Sebetulnya saya menyampaikan hal yang sederhana saja, lakukanlah hal yang simple, tapi pengaruhnya sangat dahsyat di lapangan," kata Christian yang ditemui acara pemberian penghargaan kepada Tontowi/Liliyana di Kudus, Jawa Tengah.

"Saya bilang, sebagai pasangan, kalian itu adalah belahan jiwa, kalian menggantungkan nasib masing-masing di pasangan kalian. Hargailah apapun yang dilakukan pasangan di lapangan. Kalau Owi buat salah, Butet harus bisa memaafkan dan sebaliknya. Kalau Butet cetak poin, Owi harus mengapresiasi dengan memberikan pujian," tutur Christian.

"Saat itu mereka tidak langsung bereaksi, hanya menyerap saja. Namun berdasarkan informasi yang saya dapat dari Richard (Mainaky- pelatih Owi/Butet), selama di Rio, Owi/Butet selalu mengingat kalau mereka adalah soulmate, dan memang benar adanya, Owi dan Butet itu soulmate," tambahnya.

Ditambahkan Christian, komunikasi dan kekompakan Tontowi/Liliyana sudah terbukti saat mereka berlaga di Rio. Christian selalu mengikuti perkembangan Tontowi/Liliyana selama di Rio, ia tak melewatkan satupun pertandingan pasangan ganda campuran andalan Indonesia tersebut.

"Memang di dunia ini tidak ada yang sempurna, namun penampilan Owi/Butet selama di Olimpiade Rio itu sudah mendekati sempurna," ucap Christian sambil mengacungkan jempolnya.

Sumber: Kompas. com