Aturan Servis Baru Bisa Untungkan Pemain Indonesia

26 February 2018 Aturan Servis Baru Bisa Untungkan Pemain Indonesia

Federasi Bulutangkis Dunia (BWF) baru saja mengeluarkan sejumlah aturan baru. Salah satunya penetapan batasan tinggi servis tiap pemain menjadi 115 sentimeter. Sebelumnya, tinggi servis disesuaikan dengan antropometri tubuh masing-masing, yaitu di rusuk terbawah.

Aturan baru itu menggariskan saat pertemuan shuttlecock dan kepala raket (impact), tidak boleh lebih tinggi dari 115 sentimeter. Ketentuan ini akan mulai dicoba pada kejuaraan All England 2018 BWF World Tour Super 1000 yang berlangsung bulan depan.

Guna mempersiapkan para atlet, PBSI telah memulai latihan servis menggunakan alat pengukur tinggi servis. Pada Jumat lalu, tiga wasit bersertifikat BWF didatangkan khusus untuk memberi arahan dan masukan kepada para atlet mengenai aturan baru ini.

Salah satunya Edy Rufianto, yang telah malang melintang bertugas sebagai wasit dan hakim servis di berbagai turnamen internasional. Ia pun mengungkapkan tantangan pemain dalam menghadapi aturan baru itu.

“Rata-rata kesulitannya adalah tangan kiri yang memegang shuttlecock, selalu mengangkat ke atas pada saat akan memukul shuttlecock," kata Edy. "Bisa saja sebelum servis, shuttlecock posisinya di bawah, tapi saat impact, tangannya ke atas, waktu mau memukul ke bawah lagi. Ini mungkin terjadi, seperti servisnya Christinna Pedersen.”

Menurut Edy, aturan baru itu tujuannya mengawasi servis tinggi. "Mungkin awalnya ada pemain-pemain tertentu yang merasa dirugikan dengan aturan yang lama. Servisnya sering di-fault dengan batasan iga terbawah, artinya sesuai dengan antropometri si atlet. Kalau atletnya tinggi, seperti (Mads Pieler) Kolding, ya, berarti otomatis rusuk terbawahnya juga tinggi. Rusuknya dia akan sedada orang lain, misalnya Kevin (Sanjaya Sukamuljo) yang tidak terlalu tinggi,” tuturnya.

Edy mengatakan aturan baru ini memang kurang menguntungkan bagi pemain berpostur tinggi, tapi menguntungkan untuk pemain berpostur tidak terlalu tinggi, seperti mayoritas pemain Indonesia. Batasan 115 sentimeter ini dianggap sebagai batas aman bagi pemain untuk melakukan servis tinggi (flick service), bahkan mereka yang tinggi sekalipun.

“Greysia (Polii) saya ukur rusuk terbawahnya itu ketinggiannya 112 sentimeter, artinya dia diuntungkan tiga sentimeter lebih tinggi dari aturan yang lama. Servisnya dia bisa naik lagi tiga sentimeter,” ucap Edy.

Edy juga menjelaskan bahwa dalam poin 9,13 aturan mengenai servis, yang mengharuskan batang dan kepala raket harus mengarah ke bawah pada saat servis, sekarang tidak diberlakukan. Dengan kata lain, pemain bisa bebas melakukan servis seperti apa pun asalkan impact-nya tidak lebih dari 115 sentimeter.

“Jadi karakter permainan bulu tangkis memang sudah bergeser. Sebelumnya, di bulu tangkis, servis itu kan awal dimulai permainan, kalau di tenis jadi awal serangan, kalau sekarang bisa jadi servis di bulu tangkis itu awal serangan juga,” ucap Edy.

Ia melanjutkan, “Sekarang tidak ada batasan batang raket dan kepala raket di bawah, bisa saja Kevin servis drive, bisa serang. Untuk pemain seperti Kevin, Marcus (Fernaldi Gideon), Apriyani (Rahayu), aturan ini justru menguntungkan. Buat yang berpostur tinggi, ini bisa jadi bencana.”

Sumber: Tempo. co