Tiga Wakil Melaju ke Semifinal Orleans Masters 2018

31 March 2018 Tiga Wakil Melaju ke Semifinal Orleans Masters 2018

Sebanyak tiga wakil Merah-Putih lolos ke babak semifinal Orleans Masters 2018. Dalam turnamen yang berlangsung di Palais des Sports, Orleans, Perancis, pasangan ganda campuran Alfian Eko Prasetyo/Marsheilla Gischa Islami, Ruselli Hartawan dan pasangan ganda putra Akbar Bintang Cahyono/Moh Reza Pahlevi Isfahani berhasil mengatasi lawan-lawan mereka di perempat final. 

Tiket semifinal pertama direbut Eko/Gischa yang menundukkan unggulan keempat, Jacco Arends/Selena Piek (Belanda), dengan skor 10-21, 21-16, 21-15. Kekalahan di game pertama disebutkan Eko karena mereka masih mencari tahu pola permainan yang paling sesuai untuk menghentikan perlawanan Arends/Piek.

“Di game pertama kami terlalu banyak bermain bertahan, masih sering terburu-buru, akhirnya kalah jauh. Pada saat game kedua, kami coba bermain lebih tenang lagi. Banyak no lob dan akhirnya bisa menang. Di game ketiga, kami terapkan permainan seperti game kedua dan lebih banyak menyerang,” tutur Eko kepada badmintonindonesia.org

“Kalau saya, tadi lebih lepas mainnya, tidak mau terbebani. Di game pertama kami memang masih meraba-raba mau main seperti apa. Di game kedua dan ketiga sudah tahu mau menerapkan apa,” tambah Gischa.

Eko/Gischa baru saja dipasangkan, mereka baru menjalani latihan selama satu bulan. Sebelumnya Eko berpasangan dengan Annisa Saufika, sementara Gischa dengan Yantoni Edy Saputra.

“Kami masih sering terburu-buru dan soal servis juga sama-sama sering di-fault sama hakim servis,” ujar Eko mengevaluasi penampilannya dan Gischa.

“Kalau sama Toni mungkin karena seumuran dan sudah lama partneran, jadi nggak sungkan. Kalau sama kak Eko yang lebih senior, ada rasa sungkan sedikit,” ucap Gischa ketika ditanya soal parter barunya.

Di babak semifinal, Eko/Gischa akan berhadapan dengan wakil Jerman, Peter Kaesbauer/Olga Konon. Kedua pasangan tercatat belum pernah bertemu.

“Pokoknya coba nikmati permainan dulu, tidak banyak melakukan kesalahan sendiri dan lebih aktif menyerang,” ujar Eko soal laga semifinal.

Sementara itu, Akbar/Reza melangkah ke semifinal dengan mengalahkan Frederik Colberg/Joachim Fischer Nielsen (Denmark), dengan skor 21-18, 10-21, 22-20. Sedangkan Ruselli menang atas Selvaduray Kisona (Malaysia), lewat laga rubber game, 21-10, 17-21, 21-17.

Sayangnya, tiga wakil juga terhenti di perempat final. Gregoria Mariska Tunjung tak dapat mengatasi perlawanan Shiori Saito (Jepang), dengan skor 14-21, 17-21. Pasangan ganda campuran Andika Ramadiansyah/Mychelle Crhystine Bandaso takluk dari unggulan keenam, Evgenij Dremin/Evgenia Dimova (Rusia), dengan skor 16-21, 17-21. Dari sektor ganda putra, Sabar Karyaman Gautama/Frengky Wijaya Putra dikalahkan unggulan kedelapan dari Denmark, Kasper Antonsen/Niclas Nohr, lewat laga sengit, 23-21, 18-21, 21-23.

Dilansir : badmintonindonesia. org

Kevin/Marcus Absen di Kejuaraan Bulutangkis Asia

29 March 2018 Kevin/Marcus Absen di Kejuaraan Bulutangkis Asia

Kevin Sanjaya Sukamuljo/Marcus Fernaldi Gideon akan absen di Kejuaraan Bulutangkis Asia 2018. Hal ini berkaitan dengan rencana pernikahan Marcus.

Kejuaraan Bulutangkis Asia 2018 akan digelar di Wuhan, China, pada 24-29 April mendatang. Sementara itu, Marcus berencana menikahi kekasihnya, Agnes Amelinda Mulyadi, pada 14 April 2018.

Waktu persiapan yang kurang dari dua pekan membuat Kevin/Marcus melepas Kejuaraan Bulutangkis Asia. Mereka telah mendiskusikannya dengan pelatih Herry Iman Pierngadi.

"Kejuaraan Asia tidak ikut, cancel, karena Gideon mau diadu (menikah)," kata Herry di Galeri Indonesia Kaya, Grand Indonesia, Jakarta, Rabu (28/3/2018).

"Marcus bilang saya tidak bisa ikut karena masa persiapan singkat banget. Ya, saya bilang seumpama tidak siap ya tidak perlu berangkat," tuturnya.

"Kami juga sudah bicarakan ini kepada Kabidbinpres PBSI Susy Susanti," kata Herry.

Dengan absennya Kevin/Marcus, ganda putra Indonesia yang akan turun di Kejuaraan Bulutangkis Asia adalah Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto, Berry Angriawan/Hardianto, Mohammad Ahsan/Hendra Setiawan, dan Angga Pratama/Rian Agung Saputro.

"Karena setiap satu negara batas pengiriman empat pasang, tapi tetap disesuaikan dengan ranking," kata Herry. 

DIlansir : detik. com

Kevin/Marcus Sebut Satu Pemain yang Paling Ingin Ditaklukkan

28 March 2018 Kevin/Marcus Sebut Satu Pemain yang Paling Ingin Ditaklukkan

Pasangan ganda putra terbaik dunia, Kevin Sanjaya Sukamuljo/Marcus Fernaldi Gideon, baru saja mengharumkan nama Indonesia dengan berhasil menjadi juara All England 2018.

Atas prestasinya tersebut, keduanya banyak mendapat apresiasi dari berbagai pihak hingga diundang media tour. Salah satunya adalah presenter kondang, Najwa Shihab. Dalam wawancara tersebut, keduanya pun tak malu untuk buka-bukaan.

- Lawan Tersulit
Najwa lantas menanyakan pada Marcus soal siapa lawan tersulit untuk saat ini? Sontak Marcus menjawab Lee Yong Dae.  "Paling waktu itu maunya lawan Lee Yong-dae, kita kan dulu sering kalah. Tapi pas kita mulai naik, dianya sudah berhenti, jadi tidak pernah ketemu," jawabnya. "Karena kita belum pernah menang sama sekali lawan dia," timpal Kevin.

- Kelebihan Masing-masing
Dalam interviewnya, Najwa juga saling menanyakan apa kelebihan pasangan masing-masing. "Kevin mainnya cepat, dia refleksnya bagus. Penempatan bolanya bagus. Jadi enak buat dapet bola ke saya," ungkap Marcus. "Dia percaya dirinya tinggi, dia yakin banget gitu. Mau main apa aja dia yakin, kan ada pemain bagus tapi kalau enggak yakin kan feel-nya lain," lanjutnya. Sebaliknya, Kevin pun menyanjung pasangannya itu yang memiliki semangat berjuang yang tinggi. "Dia punya fighting spirit yang luar biasa ya. Selalu semangat terus, punya smash-an kenceng mematikanlah dari belakang itu. Jadi saya kan cuma bantu dia biar lawannya ngangkat terus yang smash Marcus," ungkap Kevin Sanjaya. "Tantangan di ganda kan kita harus nyatuin dua karakter. Kalo tunggal kan menang sendiri, kalah sendiri."

- Patahkan Rekor Lee/Yoo
Dalam tiga kali pertemuan, Kevin/Marcus memang selalu kalah dari Lee Yong-dae/Yoo Yeon-seong. Bahkan di pertemuan terakhirnya, The Minions menyerah dua set langsung di ajang Indonesia Open 2016. Namun, Kevin/Marcus justru mampu mematahkan rekor dunia milik Lee/Yoo, yakni sebagai ganda putra pemenang turnamen terbanyak dalam satu tahun. Pada 2017 kemarin, Kevin/Marcus memenangkan tujuh gelar, melampaui koleksi enam gelar milik Lee/Yoo pada 2015 silam.


Dilansir : indosport

Dinar Bawa Pulang Gelar Juara dari Vietnam

27 March 2018 Dinar Bawa Pulang Gelar Juara dari Vietnam

Dinar Dyah Ayustine mempersembahkan satu gelar untuk tim bulutangkis Indonesia di ajang Vietnam International Challenge 2018. Dalam laga final yang berlangsung di Tay Ho District Stadium, Hanoi, Dinar memetik kemenangan atas Asuka Takahashi (Jepang), dengan skor 13-21, 21-16, 21-14.

Pemain unggulan ketiga ini mendapat perlawanan sengit dari Takahashi di laga final. Dinar yang kehilangan game pertama, akhirnya mengubah tempo permainan menjadi cepat. Usahanya ini membuahkan hasil, Dinar pun mengamankan game kedua dan kembali berjaya di game penentuan.

"Pokoknya sebisa mungkin saya percepat tempo permainan. Saya tidak mau bermain seperti di game pertama, saya selalu berusaha untuk menyerang lebih dulu," kata Dinar kepada Badmintonindonesia.org.

"Saya bersyukur akan gelar ini, gelar pertama saya di tahun 2018. Mudah-mudahan ini bisa menjadi penyemangat untuk diri saya sendiri, supaya bisa lebih baik di turnamen yang akan datang," sebut Dinar, pemain asal PB Djarum.

Lebih lanjut, Dinar juga berharap dirinya masuk dalam jajaran tim tunggal putri Indonesia yang memperkuat Piala Uber 2018 yang akan diselenggarakan di Bangkok, Thailand, pada Mei mendatang.

"Semua pasti ingin menjadi bagian tim inti dan membela Indonesia. Tetapi saya serahkan pada Allah SWT, karena Dia yang menentukan," ucap Dinar.

Lima gelar yang diperebutkan, tersebar merata ke lima negara berbeda. Satu gelar ganda campuran yang menjadi partai terakhir, berhasil dimenangkan oleh wakil tuan rumah.

Berikut hasil lengkap pertandingan final Vietnam International Challenge 2018:

Tunggal Putri
Dinar Dyah Ayustine (3/INA) vs Asuka Takahashi (JPN) 13-21, 21-16, 21-14

Ganda Putra
Maneepong Jongjit/Nanthakarn Yordphaisong (THA) vs Aaron Chia/Soh Wooi Yik (MAS) 21-18, 21-14

Ganda Putri
Baek Ha Na/Lee Yu Rim (2/KOR) vs Chow Mei Kuan/Vivian Hoo (5/MAS) 21-19, 17-21, 21-17

Tunggal Putra
Kento Momota (1/JPN) vs Goh Giap Chin (11/MAS) 21-9, 21-15

Ganda Campuran
Do Tuan Duc/Pham Nhu Thao (1/VIE) vs Evgenij Dremin/Evgenia Dimova (2/MAS) 20-22, 24-22, 21-15 

Dilansir : badmintonindonesia.org

Terinspirasi Roger Federer, Lin Dan Tolak Pensiun dalam Waktu Dekat

26 March 2018 Terinspirasi Roger Federer, Lin Dan Tolak Pensiun dalam Waktu Dekat

Sebagai pebulu tangkis tunggal putra China, Lin Dan sudah tak muda lagi. Namun, ia masih menunjukkan semangat yang tinggi untuk melanjutkan kariernya.

Semangat itu tak datang begitu saja. Lin Dan mengaku terinspirasi oleh sosok petenis senior asal Swiss, Roger Federer, yang masih bermain meski kini telah berusia 36 tahun.

Pada usia tersebut, Federer memang masih eksis di level atas tenis dunia. Ia kini bertengger di peringkat pertama dunia ATP, mengungguli Rafael Nadal (Spanyol) dan Marin Cilic (Kroasia).

"Saya benar-benar mengagumi Federer yang masih bisa berdiri di puncak podium pada usia 36 tahun," kata Lin Dan saat menghadiri acara produk olahraga di Guangzhou, China pada beberapa waktu lalu.

"Saya dan tim saya akan bekerja sama untuk memperpanjang karier saya dan memenangi lebih banyak turnamen," ucap pria yang dua tahun lebih muda dari Federer itu.

Apa yang diucapkan Lin Dan memang bukan isapan jempol belaka. Teranyar, ia masih sanggup mencapai babak final All England Terbuka 2018.

Namun, peraih medali emas Olimpiade 2008 dan 2012 itu gagal menjadi juara karena dikalahkan sang junior, Shi Yuqi, dengan skor 19-21, 21-16, 9-21.

Sebagai pebulu tangkis kelas dunia, sosok Lin Dan sudah meraih banyak prestasi bergengsi.

Selain dua medali emas Olimpiade, dia pernah pula menjuarai puluhan turnamen BWF dan medali Asian Games 2014.

Ia juga menjadi pesaing kuat bagi legenda bulu tangkis Indonesia, Taufik Hidayat, serta pebulu tangkis senior Malaysia, Lee Chong Wei.

Dilansir : juara.net

BWF: Aturan Servis Baru Langkah Awal membuat Game Lebih Objektif

23 March 2018 BWF: Aturan Servis Baru Langkah Awal membuat Game Lebih Objektif

Federasi Bulu Tangkis Dunia (BWF) semakin mantap memberlakukan aturan servis baru yang mengharuskan pemain melakukan servis dengan ketinggian kok maksimal 1,15 meter di atas lapangan.

Hal ini dipastikan setelah aturan ini diuji coba di Jerman Terbuka 2018 dan All England 2018 kemarin.

Sekretaris Jenderal BWF Thomas Lund menuturkan, dari berbagai masukan dan kritik yang mereka terima, BWF yakin bahwa penerapan aturan servis baru ini adalah langkah awal untuk membuat bulu tangkis menjadi semakin objektif.

"Reaksi yang kami terima dari seluruh dunia sangat menarik. Baik pemain maupun hakim servis sudah memberikan kami banyak masukan. Memang banyak pemain yang komplain, tapi banyak juga dari mereka yang tidak masalah dengan aturan ini," ujar Thomas seperti dilansir bwfbadminton.com.

Menyoal protes sederetan pemain kelas dunia terkait aturan ini, Thomas menegaskan bahwa BWF tidak serta merta menentukan hak ini tanpa melakukan konsultasi.

"Kami melibatkan banyak pelatih-pelatih bulu tangkis kelas dunia dari negara-negara bulu tangkis. Jadi sebelum diberlakukan, sudah ada konsensus, dan disetujui bahwa aturan baru ini layak diuji coba," kata Thomas  lagi.

Walau demikian, BWF mengatakan bahwa mereka akan terus menyempurnakan aturan servis baru ini dari berbagai aspek, mulai dari penambahan instrumen untuk mempermudah hakim servis, dan lainnya. "Kami hanya ingin membuat permainan menjadi lebih adil dan objektif," ujarnya.

Untuk diketahui, aturan servis baru ini sudah mendapat banyak keluhan dalam praktiknya, termasuk beberapa pemain Indonesia yang bertanding di sektor ganda.

Pemain seperti Rizki Amelia Pradipta, Melati Daeva Oktavianti, dan Fajar Alfian secara terang-terangan mengatakan bahwa aturan servis baru ini membuat mereka frustrasi dan akhirnya tidak bisa berkonsentrasi pada pertandingan.

Dilansir : jawapos

Istora Menjadi Venue Bulutangkis dan Basket di Asian Games, Harus Cermat Tata Lampu dan Lantai

22 March 2018 Istora Menjadi Venue Bulutangkis dan Basket di Asian Games, Harus Cermat Tata Lampu dan Lantai

Perbedaan lantai dan lampu untuk bulutangkis dan basket menjadi masalah menjelang Asian Games 2018. Dua cabang olahraga itu sama-sama dilaksanakan di Istora, Senayan. 

Awalnya, Istora di kompleks Gelora Bung Karno (GBK), Senayan, diperuntukkan sebagai venue bulutangkis. Tapi, belakangan bangunan heritage yang baru direnovasi itu juga diputuskan sebagai venue basket untuk partai semifinal dan final. 

Dalam pertandingan, dua cabang olahraga itu memerlukan lantai dan lampu yang berbeda. INASGOC hanya memiliki waktu satu hari untuk mengubahnya. 

"Kalau dibilang waktu cukup tapi harus ekstra kerja keras karena perubahannya nanti akan lebih banyak di lapangan pertandingan," kata manajer venue Manajer Venue, Riska Natalia Dewi, ketika ditemui usai rapat dengan INASGOC di Istora, Rabu (21/3/2018). 

"Seperti lantai untuk bulutangkis dan basket itu kan berbeda. Kalau ring basket tinggal set up saja, meja ofisial juga tak masalah, cuma ada posisi kamera dan media, ruangan yang digunakan mana saja, itu yang akan kami samakan dengan cabor bulutangkis seperti apa. Intinya saling menyesuaikan lah," ujar Rizka menjelaskan. 

Selain lapangan, lampu juga masuk bagian yang disoroti basket. Sebab, tata letak lampu untuk bulutangkis sangat berbeda. Sebagai solusinya, kata Baby, panggilan karib Rizka Natalia Dewi, timnya akan lebih dulu memasang lampu di Istora, sebelum cabor bulutangkis bergulir. 

"Kebutuhan kami minimal 2 ribu lux dan kami tidak bisa menggunakan lampu dalam posisi sekarang. Kami akan set up sebelum bulutangkis digelar, kemudian dinyalakan saat basket dimulai. Sementara untuk karpet butuh waktu 5 sampai 6 jam," katanya lagi. 

Basket, kata Rizka, diuntungkan karena venue yang digunakan jauh lebih besar ketimbang Hall A. Sehingga saat penyusunan tata letak tak terlalu banyak. 

"Pasti berubah karena venue yang digunakan dari ukuran kecil (Hall A) menjadi Istora, yang bentuknya lebih besar. Sehingga penyesuaiannya lebih mudah dan banyak ruangannya yang bisa dipakai sementara hall basket terbatas. Secara pertandingan juga lebih enak Istora, penonton juga," tuturnya. 

"Justru yang saat ini kami pertanyakan adalah ruangan untuk warming up di Hall A Senayan karena belum ada. Kami masih menunggu karena geung di sebelah Hall A sudah dibongkar dan tidak tahu akan difungsikan apa karena rencananya ada squash juga. Sementara kami masih perlu area kosong jadi bisa tambah ruang di sana," dia menambahkan. 

Dilansir : detik.com