4 Fakta Menarik Pemain Indonesia di German Open 2018

6 March 2018 4 Fakta Menarik Pemain Indonesia di German Open 2018

Mulai 6 Maret besok, para pebulutangkis Indonesia akan tampil di turnamen German Open 2018. Indonesia mengirimkan 10 wakil di turnamen BWF World Tour level Super 300, yang akan digelar mulai tanggal 6 hingga 11 Maret 2018 ini.

Ke-10 wakil Indonesia tersebut tampil di lima nomor, yakni di tunggal putra/putri, ganda putra/putri dan ganda campuran. Di masa lalu, turnamen bulutangkis yang sudah digelar sejak tahun 1955 ini ternyata punya ikatan cukup kuat dengan pemain Indonesia.

Meski, dalam satu dekade terakhir, pemain Indonesia kesulitan meraih gelar di turnamen yang dulunya bernama German Badminton Championship ini. Berikut 4 fakta unik pencapaian pemain Indonesia di German Open.

1. Pemain Indonesia sulit juara 

Dalam 15 tahun terakhir, German Open seolah kurang ramah bagi pemain-pemain Indonesia. Betapa tidak, pemain Indonesia sulit sekali meraih gelar juara di turnamen ini. Bahkan, sejak era 2000-an, Indonesia hanya bisa meraih satu gelar.

Penyebabnya bisa karena pemain Indonesia tengah tidak tampil dalam form terbaik. Bisa juga karena Indonesia tidak mengirimkan wakil terbaiknya. Di German Open tahun lalu misalnya, wakil Indonesia tak mampu berbuat banyak.

Contohnya di nomor ganda putri, Della Destiara Haris/Rosyita Eka Sari yang jadi unggulan 4, terhenti di perempatfinal. Sementara Greysia Polii yang kala itu berpasangan dengan Rizki Amelia, tersingkir di round 2.

Lalu, dua tahun sebelumnya, di tahun 2016, ganda putri peraih medali emas Asian Games 2014, Greysia Polii/Nitya Maheswari yang menjadi unggulan 1 ganda putri, hanya bisa sampai di semifinal. Bagaimana tahun ini?

Di nomor ganda putri, Indonesia akan berharap pada pasangan Della Destiara Haris yang kini berpasangan dengan Rizki Amelia. Di German Open 2018, Della/Rizki jadi unggulan 8. Selain Della/Rizki, Indonesia juga mengandalkan Anggia Sitta/Ni Ketut Mahadewi.

2. Gelar terakhir di German Open diraih di tahun 2003

Cukup lama pemain Indonesia tidak meraih gelar di German Open. Pemain Indonesia terakhir yang memenangi gelar di German Open yakni pasangan ganda putra, Flandy Limpele dan Eng Hian di tahun 2003 silam.

Ketika itu, Flandy dan Eng Hian jadi juara usai di final menang rubber game (tuga set) 9-15, 15-8, 15-4 atas ganda China, Fu Haifeng/Cai Yun di Duisburg. Kini, keduanya jadi pelatih. Flandy membantu menangani tunggal putri. Eng Hian merupakan pelatih ganda putri Indonesia.

Dialah sosok yang ‘melahirkan’ ganda putri Greysia Polii/Apriani Rahayu yang kini masuk ranking 10 besar dunia meski baru dipasangkan sejak Mei 2017 lalu.

3. Di masa lalu, tunggal putra pernah berjaya

Padahal, German Open punya sejarah kuat dengan pemain Indonesia. Di masa lalu, tunggal putra Indonesia sering juara di turnamen yang dulunya diselenggarakan oleh German Badminton Association atau Deutscher Badminton Verband (DBV) ini.

Tunggal putra legendaris Indonesia, Ferry Sonneville pernah juara di tahun 1958, 1960 dan 1961. Kemudian Fung Permadi juara di tahun 1990, Alan Budikusuma juara di tahun 1992 dan Joko Suprianto juara di tahun 95. Namun, pencapaian Joko itu yang terakhir bagi tunggal putra Indonesia.  

Di era abad 21 atau sejak 2001, belum pernah ada tunggal putra Indonesia yang bisa juara di sana. Tahun 2015 silam, tunggal Indonesia pernah nyaris juara. Sayangnya, Dionysius Hayom Rumbaka yang tampil di final, kalah dari tunggal putra Denmark, Jan O Jorgensen.

4. Peluang akhiri ‘paceklik’ gelar di German Open tahun ini

Nah, di German Open 2018, pemain-pemain Indonesia yang tampil, berkesempatan untuk mengakhiri paceklik gelar. Utamanya di nomor tunggal putra. Sebab, Indonesia mengirimkan dua tunggal putra terbaiknya, Anthony Sinisuka Ginting dan Jonatan Christie.

Anthony jadi unggulan 5, sementara Jonatan jadi unggulan 8. Dikutip dari badmintonindonesia.org, Anthony yang pada Januari lalu jadi juara Indonesia Masters tetapi kemudian sempat mengalami cedera pada engkel kanannya ketika tampil di turnamen Badminton Asia Team Championships pada Februari lalu 2018, mengaku kondisinya sudah lebih baik.

Di nomor ganda putra, Indonesia juga bisa menyamai pencapaian Flandy/Eng Hian di tahun 2013 silam. Indonesia mengirimkan tiga ganda putra berpengalaman, Hendra Setiawan/Mohamad Ahsan, Angga Pratama/Rian Agung Saputro dan Fajar Alfian/M Rian Ardianto. Peluang untuk juara di ganda putra cukup besar mengingat ganda terbaik China dan Denmark tidak ikut tampil.

 

[Dilansir IDN Times, ditulis oleh Hadi Santoso]