Keputusan Pensiun Lee Yong-dae Sudah Final!

30 September 2016 Keputusan Pensiun Lee Yong-dae Sudah Final!

 

Dalam wawancara dengan wartawan di Seoul, Kamis (29/9/2016), Lee Yong-dae memastikan bahwa rencana pensiunnya dari tim nasional Korea Selatan sudah final.

Lee dan Yoo Yeon-seong tengah menjalani turnamen terakhir mereka sebagai pasangan ganda putra pada Korea Terbuka di Seong-nam Indoor Stadium, 27 September-2 Oktober.

Mereka memastikan diri lolos ke babak semifinal setelah menundukkan pasangan Jepang, Takeshi Kamura/Keigo Sonoda, 21-15, 18-21, 21-18, Jumat (30/9/2016).

Berikut ini wawancara yang dirangkum Federasi Bulu Tangkis Dunia (Badminton World Federation/BWF) dengan Lee.

Apakah keputusan Anda untuk pensiun dari timnas sudah final? Tidakkah Anda ingin bermain hingga akhir tahun?

Keputusan ini sudah pasti dan saya ingin beristirahat dari badminton untuk sementara waktu. Surat-surat seputar pengajuan pensiun sedang dalam proses.

Apakah Anda sedih meninggalkan bulu tangkis?

Saya sudah mengikuti banyak turnamen dalam beberapa tahun. Saya ingin beristirahat dari semua turnamen, melihat peluang yang ada dan mengambilnya.

Beberapa orang bertanya ke saya seputar Tokyo 2020, tetapi saya tidak berpikir tentang Olimpiade berikutnya. Saya ingin menemukan jalur lain di bulu tangkis.

Jika melihat ke belakang, apa saja kenangan paling membahagiakan dalam karier Anda?

Saya punya banyak kenangan menyenangkan dari banyak event. Karena Olimpiade jadi yang utama, momen terbesar adalah meraih medali emas ganda campuran di Beijing 2008 (bersama Lee Hyo-jung).

Begitu juga ketika menang pada Jepang Terbuka 2015, melawan Fu Haifeng/Zhang Nan (China). Pertandingan itu sangat ketat. Mungkin itu merupakan kemenangan tersulit kami dan sangat berkesan.

(Pada laga final Jepang Terbuka 2015, Lee/Yoo mengalahkan Fu/Zhang dengan 21-19, 29-27.)

Ada penyesalan?

Penyesalan terbesar saya adalah Olimpiade terakhir di Rio. Saya sangat tegang dan merasakan terlalu banyak tekanan dari rakyat Korea. Tanpa itu, saya mungkin bisa meraih hasil lebih baik.

(Lee/Yoo terhenti pada babak perempat final Olimpiade Rio 2016 setelah kalah dari pasangan Malaysia, Goh V Shem/Tan Wee Kiong)

Saya merasa akan sangat menyenangkan jika bisa menang pada Kejuaraan Dunia (2009) di India. Laga final berjalan sangat ketat. Mungkin karier saya akan lebih baik jika saya bisa memenangi Kejuaraan Dunia.

(Pada final Kejuaraan Dunia 2009, Lee yang berpasangan dengan Chung Jae-sung kalah 18-21, 21-16, 26-28 dari pasangan China, Cai Yun/Fu Haifeng)

Saya merasa kami seharusnya bisa meraih hasil lebih baik di Olimpiade dan Asian Games.

Saya sudah bermain selama 14 tahun di tim nasional. Saya sekarang dengan hati-hati tengah mempertimbangkan karier lain sebagai alternatif.

Hal yang membuat saya paling gembira adalah bahwa saya akan bebas dari semua tekanan masyarakat untuk menang. Saya tahu bahwa para penggemar menyayangi saya. Saya akan tetap ada di lapangan, dengan kapasitas berbeda.

Sumber: Juara. net

Penutupan PON 2016 Libatkan 3420 Personel Keamanan

29 September 2016 Penutupan PON 2016 Libatkan 3420 Personel Keamanan

Pekan Olahraga Nasional (PON) Jawa Barat XIX/2016 bakal ditutup dengan upacara meriah Kamis (29/9) malam. Pengawalan ketat pun telah disiapkan untuk menyukseskan penutupan pesta olahraga empat tahunan tersebut.

Kabid Humas Polda Jabar Kombespol Yusri Yunus menjelaskan, pihaknya telah menyiapkan personel lengkap untuk mengawal agenda penutupan yang akan digelar di Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA).


"Situasi sampai saat ini aman terkendali. Kami sudah menyiapkan total 3420 personel aparat keamanan yang terdiri dari Polri, TNI, Satpol PP, Dishub, Damkar, dan pengamanan lainnya," kata Yusri.

Jumlah personel penutupan PON 2016 lebih banyak dari pada saat pembukaan yang menurunkan 2535 personel keamanan. Yusri yakin personelnya dapat meminimalisir segala tindak kejahatan seperti copet, teroris, dan sabotase.

"Tim gegana sudah turun semua. Penyebaran keamanan pun sama seperti pada saat pembukaan yakni dibagi ke dalam tiga zona: dalam stadion, luar stadion, dan akses menuju stadion."

"Saya berharap penutupan ini dapat berjalan sukses dan terlaksana dengan baik," ucap Yusri.

Acara penutupan tersebut rencananya akan dihadiri Wakil Presiden Indonesia Jusuf Kalla. Penutupan yang memakan biaya sekitar Rp45 miliar tersebut mengusung konsep utama 'Harmoni Indonesia'.

Meski PON kali ini diwarnai protes dan aksi kericuhan, tuan rumah Jawa Barat sukses meraih juara umum. Selanjutnya, pesta olahraga multievent tersebut bakal digelar di Papua pada tahun 2020.

Sumber: CNN Indonesia

Dapet Medali Emas, Fitriani Menaklukkan Ganasnya GOR Bima

28 September 2016 Dapet Medali Emas, Fitriani Menaklukkan Ganasnya GOR Bima

Bertanding melawan pemain tuan rumah adalah salah satu tantangan yang kerap dilalui seorang atlet bulu tangkis. Tidak jarang, kekuatan mental bisa menjadi faktor penentu.

Ujian itu yang harus dilewati pemain tunggal putri DKI Jakarta, Fitriani, saat bertanding melawan Hanna Ramadini di final Pekan Olahraga Nasional 2016 di GOR Bima, Cirebon, Jawa Barat, Rabu (28/9/2016).

Hanna adalah finalis dari tuan rumah, Jawa Barat. Sejak pertandingan dimulai, mayoritas penonton di GOR Bima sudah berteriak "Huuuu!" saat nama Fitriani disebutkan. Indikasinya jelas, mereka tidak mendukung Fitriani menang.

Alhasil, atlet kelahiran Garut tersebut seperti menghadapi dua lawan yakni Hanna dan barisan suporter di GOR Bima.

Situasi seperti ini memang sudah lazim dialami atlet seperti Fitriani dan seharusnya tidak perlu diambil hati. Namun, jika mental tidak kuat, bisa-bisa kekalahan sudah terjadi sebelum bertanding.

Toh, Fitriani tetap memasang wajah datar di lapangan. Dia hanya fokus menghadapi perlawanan Hanna.

Sesekali dia berteriak melepaskan kegembiraan saat mendapatkan poin.

Suasana GOR Bima semakin 'panas' memasuki menit-menit akhir gim pertama. Hanna memimpin 20-15. Sorakan dukungan dan yel-yel seperti tidak putus terdengar.

Seruan "Huu!" dan "Ya!" bergantian terdengar setiap Fitriani dan Hanna memukul bola.

Teriakan "Ayo, Hanna!" dan "Ja-wa Ba-rat!" disambut tepukan bergantian menggema dari pojok-pojok GOR Bima.

Hanna hanya butuh satu poin untuk menyelesaikan gim pertama. Namun, Fitriani menolak menyerah.

Dia semakin gencar melancarkan serangan. Perjuangannya membawa hasil.

Dia meraih lima poin berturut-turut dan menyamakan kedudukan menjadi 20-20.

Hanna sendiri bukan tanpa perlawanan. Saling kejar angka kembali terjadi, sampai akhirnya Fitriani-lah yang menutup gim dengan kemenangan 24-22.

Kemenangan tersebut seperti melecut semangat Fitriani pada gim kedua.

Dia tidak banyak memberi kesempatan Hanna mencuri poin. Dia pun memastikan medali emas untuk DKI Jakarta setelah memenangi gim kedua 21-12 dan mengatasi atmosfer GOR Bima.

"Jujur sih memang tadi saya sempat tegang waktu melihat para suporter Hanna. Kalau dibandingkan, yang mendukung saya mungkin tidak seberapa," kata Fitriani seusai laga.

Sepanjang pertandingan, dia terus meyakinkan dirinya untuk tidak lantas menyerah.

"Walau sedikit terpengaruh, tetapi saya bilang dalam hati kalau saya tidak boleh terbawa suasana dan terpengaruh keadaan penonton," tuturnya.

Kemenangan atas Hanna tersebut juga memperpanjang rekor pertemuan keduanya. Dari lima pertemuan, Fitriani tidak terkalahkan.

Sumber: Juara. net

Jonatan Christie Akan Hadapi Wisnu Yulis Prasetyo di Final PON 2016

27 September 2016 Jonatan Christie Akan Hadapi Wisnu Yulis Prasetyo di Final PON 2016

Pebulu tangkis DKI Jakarta, Jonatan Christie, maju ke final tunggal putra Pekan Olahraga Nasional (PON) 2016 setelah mengalahkan perwakilan Jawa Barat (Jabar) sekaligus rekannya di pelatnas, Anthony Sinisuka Ginting, 21-19, 21-18.

Jonatan mengatasi ketertinggalan 8-13 pada gim pertama dan berbalik menang dalam pertandingan di GOR Bima, Cirebon, Jawa Barat, Selasa (27/9/2016).

Memasuki gim kedua, dia pun sanggup meladeni permainan Anthony dan menyudahi pertandingan dengan angka 21-18.

Jonatan mengatakan bahwa dia sempat tertekan dan membuat banyak kesalahan pada gim pertama.

Dukungan penonton terhadap Anthony juga sedikit banyak memengaruhi konsentrasinya.

"Awal-awal saya merasa agak monoton mainnya. Baru setelah pelan-pelan bisa mendapatkan poin, saya mencoba lebih sabar dan tidak mau buru-buru mematikan dia," kata Jonatan.

Unggulan pertama di PON tersebut mengatakan bahwa dia juga cukup diuntungkan dengan kondisi Anthony yang kurang fit karena sempat sakit sejak turun di nomor beregu.

"Saya melihat kondisi Anthony kurang bagus karena batuk, tadi juga sudah sempat ngos-ngosan. Padahal, kalau dia dalam kondisi terbaik, dia bermain sangat bagus. Hari ini sepertinya dia tidak tampil seperti biasa," kata Jonatan.

Menatap babak final pada Rabu (28/9/2016), Jonatan pun bertekad mengeluarkan kemampuan terbaiknya.

"Ya saya all-out saja, namanya juga sudah final. Maunya nanti saya sudah lebih bisa mengatur tempo dan variasi permainan, karena tadi masih sering terburu-buru," tuturnya.

Di final Jonatan akan menghadapi Wisnu Yuli Prasetyo (Jawa Timur) yang baru saja mengalahkan Ihsan Maulana Mustofa (Jawa Tengah) dengan rubber games 22-20 9-21 21-17.

Ihsan merupakan unggulan kedua, sementara Wisnu adalah unggulan keempat.

Adapun Anthony yang menjadi lawan Jonatan di semifinal adalah unggulan ketiga.

Sumber: Juara. net

Ricky Karanda, Ihsan Maulana Mustofa dan Jonatan Christie Jadi Buruan Foto di PON Jawa Barat

26 September 2016 Ricky Karanda, Ihsan Maulana Mustofa dan Jonatan Christie Jadi Buruan Foto di PON Jawa Barat

Memiliki wajah tampan dan berprestasi, mungkin itu yang bisa disematkan oleh tiga atlet putra bulutangkis ini. Kehadiran mereka dalam cabang olah raga Bulutangkis di Pekan Olahraga Nasional (PON) XIX Jawa Barat yang diselenggarakan di Sporthall Bima Cirebon, memberikan atmosfer tersendiri.

Masing-masing atlet tersebut memiliki penggemar yang didominasi oleh kaum hawa. Walaupun tidak semuanya mewakili Jawa Barat, namun dukungan dari penonton dan penggemarnya tetap diberikan kepada tiga atlet ini. Tiga atlet tersebut yaitu Ricky Karanda Suwardi (Jabar), Ihsan Maulana Mustofa (Jateng) dan Jonathan Cristie (DKI Jakarta).

Nama Ricky Karanda sudah cukup familiar bagi warga Cirebon. Itu karena ia merupakan warga asli Cirebon. Tepatnya, di Desa Babakan Kecamatan Babakan Kabupaten Cirebon. Kehadiran Ricky dalam pertandingan ini, memang cukup menyita perhatian warga Cirebon. Bahkan, keluarga Ricky, memboyong sekitar 150 tetangganya untuk bisa menyaksikan putranya bertanding secara langsung.

Atlet yang ikut berperan bagi Jabar dalam meraih emas cabang bulutangkis beregu ini, juga menjadi buruan para penggemarnya. Tidak jarang nama Ricky selalu disebut ketika Jabar bertanding. Keramahan Ricky juga, membuat banyak fan yang tidak segan untuk bisa berfoto bersama dengan idolanya.

Sedangkan atlet bulutangkis selanjutnya, yaitu Ihsan Maulana Mustofa. Walaupun saat ini ia mewakili Jawa Tengah, namun atlet muda ini, lahir di Tasikmalaya Jawa Barat. Permainannya yang cukup bagus, menjadi hiburan tersendiri bagi para penonton. Apalagi, Ihsan selalu menyempatkan diri untuk menyapa para pendukungnya di luar lapangan.

Walaupun bermain mewakili Jawa Tengah, namun pendukung Ihsan di Cirebon cukup besar. Ketika Ihsan bertanding, sorakkan dukungan dari para penonton terus menggema. Senyumnya yang khas dan gayanya yang santai, membuat para pendukungnya, terutama kaum hawa, rela harus menunggu lama, demi bisa berfoto bareng dengan Ihsan.

Nama Jonatan Cristie juga cukup tenar di Cirebon. Puluhan ABG yang didominasi oleh kaum hawa, selalu memburu atlet asal DKI Jakarta ini setiap harinya. Selain memiliki wajah rupawan, kemenangannya atas Lin Dan dalam sebuah pertandingan, membuat namanya menjadi terkenal di kancah bulutangkis nasional.

Tidak sedikit yang menyamakan Jojo, dengan salah satu mantan atlet bulutangkis kebanggaan Jawa Barat, Taufik Hidayat. Teriakan histeris sering terdengar di dalam stadion, saat Jojo bertanding. Bahkan, tidak sedikit para suporter yang membawa tulisan khusus untuk mendukung Jojo.

Jonatan juga memiliki kesibukan yang sama seperti dua atlet yang sudah dibahas sebelumnya. Ia harus sabar meladeni para penggemarnya, untuk melakukan foto bareng atau membubuhkan tanda tangan sebagai salah satu kenang-kenangan.

Yang pasti, ketiganya merupakan atlet muda Indonesia yang berprestasi, yang harus terus kita dukung untuk membawa bulutangkis Indonesia, kembali Berjaya di dunia.

Sumber: Metronews. com