Fajar Alfian Menjelang All England

28 February 2018 Fajar Alfian Menjelang All England

Ganda Putra Indonesia peringkat 12 dunia, Fajar Alfian melakukan persiapan untuk tournament terdekat minggu depan, Jerman Open dan berlanjut ke All England. Ditemui di GCT Badminton, yang beralamatkan di Jalan Taman Margasatwa no.12 Jatipadang, Jakarta Selatan, pada selasa 27 februari 2018. Menjadikan kejuaraan All England sebagai tolak ukur kemampuannya bersama Muhammad Rian Ardianto yang merupakan patner bermainnya dinomer ganda putra.

"Persiapan saya 1 bulan untuk berangkat ke All England, drawing di All England kurang menguntungkan karena di ganda putra baru babak awal bertemunya sesama Indonesia juga, nah itu yang akan jadi tolak ukur. Saya pribadi ingin bermain di Asian Games, sedangkan hanya 2 pasang yang akan mewakili Indonesia dinomor perorangan, jadi saya ingin bermain maksimal" ungkap Fajar menceritakan target jangka pendeknya.

Nomor ganda putra ditargetkan PBSI untuk mempertahankan gelar, setelah tahun lalu Kevin Sanjaya Sukamuljo bersama Marcus Fernaldi Gideon berhasil meraih gelar juara di tournament bergengsi tersebut, yang juga merupakan tournamen tertua di bulutangkis, All England.

Adapun ganda putra Indonesia yang pada 14 Maret ambil bagian di Birmingham, 3 diantaranya berada di pool atas, Kevin Sanjaya Sukamuljo/ Marcus Fernaldi Gideon sudah harus 'perang saudara' di round 1 dengan Angga Pratama/ Rian Agung Saputro, yang lolos ke round 2 akan berhadapan dengan pemenang antara Fajar Alfian/ Muhammad Rian Ardianto vs Ong Yew Sin/ Teo Ee Yi [Malaysia].
Sedangkan Mohammad Ahsan/ Hendra Setiawan berada di pool bawah dan di babak awal akan menghadapi Jacco Arends/ Ruben Jille [Belanda].  

Terkait Kans Tunggal Putri di Asian Games 2018

27 February 2018 Terkait Kans Tunggal Putri di Asian Games 2018

Bulu tangkis masih menjadi primadona untuk mendulang medali di pentas Asian Games 2018. Berdasar itu, cabor ini terus mempersiapkan diri demi raihan prestasi terbaik. Hanya saja, ada satu kekhawatiran, terutama di sektor tunggal putri. Harapan tunggal putri untuk bisa berprestasi diakui masih sulit.

Hal itu disampaikan legenda bulu tangkis Indonesia, Christian Hadinata. Ditemui dalam acara Meet The Legend di Green Pramuka Square, Minggu (25/2), Christian Hadinata mengakui tunggal putri masih sulit untuk menorehkan prestasi besar. Namun, untuk kelas ganda putri dan ganda campuran, disebutnya masih ada harapan.

"Sektor Putri, kami berharap ganda putri dan campuran. Ganda putri 60-40 peluangnya," sebut Christian Hadinata kepada JawaPos.com.

Christian mengakui tunggal putri masih perlu banyak waktu untuk bangkit. Apalagi menghadapi pesaing berat seperti Tiongkok, Jepang, Malaysia, dan Korea Selatan.

"Tunggal putri berat sekali. Tunggal putri memang masih perlu waktu," tegas salah satu komisaris Green Pramuka City itu.

Event yang berlangsung di Ground Floor Green Pramuka Square, Jakarta Pusat itu, selain didedikasikan untuk mengapresiasi jasa para legenda bulutangkis Indonesia, juga ditujukan untuk menyambut perhelatan Asian Games 2018 pada Agustus mendatang.

Direktur Utama Green Pramuka City, Rudy Herjanto menjelaskan pihaknya mengapresiasi jasa para atlet, khususnya bulutangkis dalam mengharumkan nama Indonesia melalui sejumlah prestasi. Masyarakat memberikan dukungan penuh kepada para atlet bulu tangkis yang akan berlaga di Asian Games 2018.

"Dengan segenap motivasi, kerja keras, dan doa, besar harapan kami, para atlet dapat menjadi tuan rumah di negeri sendiri," beber Rudy.

Sejumlah egenda bulu tangkis Indonesia lainnya yang turut memeriahkan event Meet The Legend seperti Eddy Hartono yang juga merupakan Komisaris dari Green Pramuka City, Ivana Lie, Haryanto Arbi, dan tentunya Christian Hadinata. Dalam event itu, para pengunjung dapat beramah tamah dengan para legenda bulu tangkis serta berkesempatan untuk berfoto bersama.

Dilansir : jawapos

Aturan Servis Baru Bisa Untungkan Pemain Indonesia

26 February 2018 Aturan Servis Baru Bisa Untungkan Pemain Indonesia

Federasi Bulutangkis Dunia (BWF) baru saja mengeluarkan sejumlah aturan baru. Salah satunya penetapan batasan tinggi servis tiap pemain menjadi 115 sentimeter. Sebelumnya, tinggi servis disesuaikan dengan antropometri tubuh masing-masing, yaitu di rusuk terbawah.

Aturan baru itu menggariskan saat pertemuan shuttlecock dan kepala raket (impact), tidak boleh lebih tinggi dari 115 sentimeter. Ketentuan ini akan mulai dicoba pada kejuaraan All England 2018 BWF World Tour Super 1000 yang berlangsung bulan depan.

Guna mempersiapkan para atlet, PBSI telah memulai latihan servis menggunakan alat pengukur tinggi servis. Pada Jumat lalu, tiga wasit bersertifikat BWF didatangkan khusus untuk memberi arahan dan masukan kepada para atlet mengenai aturan baru ini.

Salah satunya Edy Rufianto, yang telah malang melintang bertugas sebagai wasit dan hakim servis di berbagai turnamen internasional. Ia pun mengungkapkan tantangan pemain dalam menghadapi aturan baru itu.

“Rata-rata kesulitannya adalah tangan kiri yang memegang shuttlecock, selalu mengangkat ke atas pada saat akan memukul shuttlecock," kata Edy. "Bisa saja sebelum servis, shuttlecock posisinya di bawah, tapi saat impact, tangannya ke atas, waktu mau memukul ke bawah lagi. Ini mungkin terjadi, seperti servisnya Christinna Pedersen.”

Menurut Edy, aturan baru itu tujuannya mengawasi servis tinggi. "Mungkin awalnya ada pemain-pemain tertentu yang merasa dirugikan dengan aturan yang lama. Servisnya sering di-fault dengan batasan iga terbawah, artinya sesuai dengan antropometri si atlet. Kalau atletnya tinggi, seperti (Mads Pieler) Kolding, ya, berarti otomatis rusuk terbawahnya juga tinggi. Rusuknya dia akan sedada orang lain, misalnya Kevin (Sanjaya Sukamuljo) yang tidak terlalu tinggi,” tuturnya.

Edy mengatakan aturan baru ini memang kurang menguntungkan bagi pemain berpostur tinggi, tapi menguntungkan untuk pemain berpostur tidak terlalu tinggi, seperti mayoritas pemain Indonesia. Batasan 115 sentimeter ini dianggap sebagai batas aman bagi pemain untuk melakukan servis tinggi (flick service), bahkan mereka yang tinggi sekalipun.

“Greysia (Polii) saya ukur rusuk terbawahnya itu ketinggiannya 112 sentimeter, artinya dia diuntungkan tiga sentimeter lebih tinggi dari aturan yang lama. Servisnya dia bisa naik lagi tiga sentimeter,” ucap Edy.

Edy juga menjelaskan bahwa dalam poin 9,13 aturan mengenai servis, yang mengharuskan batang dan kepala raket harus mengarah ke bawah pada saat servis, sekarang tidak diberlakukan. Dengan kata lain, pemain bisa bebas melakukan servis seperti apa pun asalkan impact-nya tidak lebih dari 115 sentimeter.

“Jadi karakter permainan bulu tangkis memang sudah bergeser. Sebelumnya, di bulu tangkis, servis itu kan awal dimulai permainan, kalau di tenis jadi awal serangan, kalau sekarang bisa jadi servis di bulu tangkis itu awal serangan juga,” ucap Edy.

Ia melanjutkan, “Sekarang tidak ada batasan batang raket dan kepala raket di bawah, bisa saja Kevin servis drive, bisa serang. Untuk pemain seperti Kevin, Marcus (Fernaldi Gideon), Apriyani (Rahayu), aturan ini justru menguntungkan. Buat yang berpostur tinggi, ini bisa jadi bencana.”

Sumber: Tempo. co

MIGAS - PGN - PERTAMINA EP, ADAKAN TOURNAMENT BADMINTON DI GCT ARENA

24 February 2018 MIGAS - PGN - PERTAMINA  EP, ADAKAN TOURNAMENT BADMINTON DI GCT ARENA

Perusahaan Gas Negara (PGN) mengadakan tournament Badminton antar karyawan pada hari Sabtu 24 Februari 2018, bertempat di GCT Badminton, yang beralamatkan di Jalan Taman Margasatwa no.12 Jatipadang, Jakarta Selatan.

Tournament yang hanya memainkan nomor beregu putra saja, dihadiri sekitar 50 orang ini berlangsung tertib dan teratur. Adapun babak final terjadi All PGN final, yang dimenangkan oleh Andri/Akbar atas Aris/Anjar yang keluar sebagai runner-up.

Perebutan podium tempat ketiga, diraih oleh pasangan Tomy/ Yogi dari Pertamina setelah mengalahkan Agung/ Yayat dari Ditjen Migas.

"Tournament seperti ini sudah beberapa kali kita bikin, namun kali ini hitunganya dadakan. Tidak ada jadwal pasti karena acara seperti ini kita bikin bukan untuk peringatan hari-hari tertentu, hanya bertujuan untuk semakin mengenal dan mempererat hubungan antar sesama karyawan" ungkap Bpk Unggul selaku salah satu panitia acara.

Kidambi Srikanth Tolak Sistem Skor Bulutangkis Terbaru

22 February 2018 Kidambi Srikanth Tolak Sistem Skor Bulutangkis Terbaru

Beberapa bulan setelah memperkenalkan sistem kalender World Tour, Federasi Bulu Tangkis Dunia (Badminton World Federation/BWF) saat ini berencana untuk memperkenalkan sistem penilaian pertandingan terbaru.

Sejak 2006 hingga saat ini, format skor yang diterapkan pada pertandingan bulu tangkis adalah 21x3 (best of three).

Dua belas tahun sejak diterapkan, BWF menilai format skor tersebut membuat pertandingan berjalan terlalu lama.

Berkat kerja sama dengan pihak televisi di beberapa negara, BWF pun mulai bereksperimen dengan sistem penilaian 11x5 (best of five) sejak 2014 di berbagai turnamen.

Setelah melakukan berbagai eksperimen tersebut, BWF pun akan melakukan Rapat Umum Tahunan BWF untuk membahas perubahan ini dan dijadwalkan digelar di Bangkok, Thailand, 19 Mei 2018.

Terkait perubahan aturan tersebut, salah satu pemain bulu tangkis India, Kidambi Srikanth, angkat bicara.

"Beberapa hal terjadi, tetapi saya belum pernah mendengar apapun secara resmi BWF. Sebenarnya, BWF telah meminta akan hal itu beberapa tahun yang lalu, sebelum Olimpiade Rio 2016," kata Kidambi dikutip beritajowo.com dari Firstpost.

"Saya secara pribadi belum mencoba format 11. Sistem poin 21 bekerja baik untuk saya dan saya ingin terus dipertahankan," lanjut tunggal putra India berusia 24 tahun itu.

Selain perubahan sistem skor pertandingan, Kidambi juga turut mengomentari perubahan regulasi servis yang baru.

Pada aturan baru tersebut, pemain yang melakukan servis, harus memegang shuttlecock di bawah 1,15 meter dari permukaan lapangan.

"Aturan servis baru juga mulai pada World Tour All England Open 2018. Aturan ini tidak akan mempengaruhi kebanyakan pemain, hanya pemain bertubuh tinggi saja yang terpengaruh," kata Kidambi.

Saat ini Kidambi tengah mempersiapkan diri untuk mengikuti turnamen All England Open yang akan digelar pada 14-18 Maret 2018.

Dilansir : beritajowo(dot)com