Watanabe Petik Pelajaran Berharga Dari Rionny Mainaky

8 October 2020 Watanabe Petik Pelajaran Berharga Dari Rionny Mainaky

Jakarta | Kehadiran beberapa pelatih asing di tim bulutangkis Jepang terbukti mampu memberikan dampak positif bagi kesuksesan pasukan Negeri Matahari Terbit dalam beberapa tahun ke belakang. Misalnya Rionny Mainaky. Pelatih asal Indonesia itu punya peran penting dalam karier seorang Yuta Watanabe saat mengarsiteki sektor ganda putra Jepang.

Watanabe mengaku dapat pelajaran berharga saat dilatih Rionny. Menurutnya, berkat tangan dingin Rionny, ganda putra ranking lima dunia itu bisa lebih cermat saat berhadapan dengan setiap lawan-lawannya.

“Dia (Rionny) banyak memberikan saran dan masukan. Saya harus belajar tentang apa yang mau saya lakukan di lapangan. Di waktu yang sama juga, saya harus tahu yang tidak disukai lawan,” ujar Yuta Watanabe dalam bincang-bincang virtual di kanal Youtube Badminton TV.

“Itu yang saya pelajari dari dia, bagaimana caranya memprediksi dan membaca permainan lawan. Kami harus bisa berpikir selanjutnya, apa yang akan terjadi. Itu harus dipikirkan, jadi kami bisa mengantisipasi itu. Itu pelajaran yang saya dapat dari Rionny,” lanjutnya menambahkan.

Selain Rionny, Watanabe juga mendapat ilmu dari pelatih ganda campuran Jepang, Jeremy Gan yang notabene asal Malaysia. Meski diasuh dua pelatih asing, namun Watanabe mengaku tidak mengalami kendala dalam berkomunikasi, baik saat latihan maupun di tengah pertandingan.

“Menurut saya tidak sulit (berkomunikasi). Walaupun saya tidak berbahasa Inggris, tapi kekuatan saya adalah saya punya hati yang baik. Jadi komunikasi itu kan dari hati ke hati. Salah tidak apa-apa, coba dan coba lagi,” ungkapnya.

sumber dan kutipan dari djarumbadminton.com dan Channel Youtube Badminton TV

Yuta Watanabe Beberkan Sosok Penting Dalam Karier Bulutangkisnya

7 October 2020 Yuta Watanabe Beberkan Sosok Penting Dalam Karier Bulutangkisnya

Jakarta | Pebulutangkis spesialis ganda asal Jepang, Yuta Watanabe mengungkapkan sosok yang berperan penting dalam karier bulutangkisnya sejauh ini. Tidak hanya satu, juara All England 2020 BWF World Tour Super 1000 itu bahkan menyebut ada tiga sosok yang benar-benar memengaruhi prestasinya di dunia bulutangkis.

“Ini pertanyaan yang sulit (jika hanya satu sosok, Red). Tiga orang boleh? He he he. Yang pertama adalah coach Jeremy Gan (pelatih ganda campuran asal Malaysia), lalu yang kedua dan ketiga tentu (Hiroyuki) Endo dan Arisa (Higashino). Mereka adalah hidup saya di bulutangkis,” ungkap Yuta Watanabe dalam bincang-bincang virtual di kanal Youtube Badminton TV.

Bersama Endo, saat ini Watanabe berada di ranking lima dunia. Sementara di sektor ganda campuran, Watanabe/Higashino juga menempati peringkat dunia yang sama. Sebelum juara All England 2020 BWF World Tour Super 1000 bersama Endo, Watanabe sudah lebih dulu mencicipi podium tertinggi di turnamen tertua itu bersama Higashino pada 2018 lalu.

Sejauh ini, Watanabe/Higashino adalah ganda campuran terbaik yang dimiliki Jepang. Tapi sekarang, mereka akan berdampingan sekaligus bersaing dengan pasangan Yuki Kaneko/Misaki Matsutomo, yang saat ini menduduki peringkat 19 dunia. Apalagi, selepas pensiunnya Ayaka Takahashi, Agustus lalu, Misaki memutuskan untuk fokus di sektor ganda campuran bersama Kaneko.

“Ya, jadi sekarang kami punya teman sparring. Sekarang kami bisa latihan bersama (Kaneko/Matsutomo), karena sebelumnya tidak ada teman sparring di ganda campuran,” katanya.

“Sebetulya tidak ada ganda campuran lain selain saya dan Arisa. Tahun lalu masih ada (Kenta) Kazuno/(Ayane) Kurihara, yang juga dari Unisys. Tapi sejak mereka pensiun, tidak ada ganda campuran lagi. Jadi, kami harus berlatih dengan sektor ganda putra. Kami tidak pernah latihan bersama ganda campuran,” jelasnya menambahkan.

Sementara itu, setelah hampir tujuh bulan tanpa kompetisi akibat pandemi, Watanabe dkk akan ambil bagian di kejuaraan Denmark Open 2020 BWF World Tour Super 750 yang dijadwalkan berlangsung di Odense pada 13 hingga 18 Oktober medatang. Watanabe/Higashino datang sebagai unggulan pertama di sektor ganda campuran. Sedangkan bersama Endo di ganda putra, Endo/Watanabe menempati unggulan kedua.

sumber dan kutipan dari djarumbadminton.com

Tahun Depan Turnamen Padat, PBSI Tentukan Skala Prioritas

6 October 2020 Tahun Depan Turnamen Padat, PBSI Tentukan Skala Prioritas

Jakarta | Padatnya kalender turnamen di musim kompetisi 2021 mendatang lantas membuat Pengurus Pusat Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia (PP PBSI) harus benar-benar cermat dalam menyiasati pengiriman atletnya di sejumlah kejuaraan. Sejauh ini, PP PBSI dikabarkan sudah menentukan apa saja yang menjadi tujuan utamanya di tahun depan. Penerapan skala prioritas juga berlaku dalam pengiriman pemain ke turnamen.

“Banyak turnamen yang tidak memungkinkan untuk dilaksanakan di tahun 2020 dan kami menghargai keputusan BWF karena pertimbangan utama pasti kesehatan dan keselamatan atlet,” kata Kepala Bidang Pembinaan dan Prestasi PP PBSI, Susy Susanti sebagaimana siaran pers PP PBSI yang diterima Djarumbadminton.com.

“Antisipasi dari PBSI adalah pengaturan penetapan target dan pengiriman pemain, mana saja yang harus diutamakan. Terutama mereka yang masih butuh poin ke olimpiade, tentu akan beda dengan mereka yang sudah amankan ke Olimpiade, seperti Kevin (Sanjaya Sukamuljo)/Marcus (Fernaldi Gideon), misalnya,” lanjutnya menambahkan.

Susy juga mengatakan bahwa para atlet pun harus mengantisipasi padatnya jadwal pertandingan di tahun depan dengan menjaga kondisi dan mempersiapkan diri sebaik mungkin khususnya jelang turnamen-turnamen penting pada 2021 mendatang.

Jika diurutkan, prioritas utama PBSI adalah Olimpiade Tokyo, Piala Thomas & Uber, Piala Sudirman, Kejuaraan Dunia dan All England.

Sementara itu, dengan mundurnya pelaksanaan tiga turnamen seri Asia 2020 ke Januari 2021, maka hal tersebut bakal membawa dampak pada pengaturan kalender kejuaraan di tahun depan. Indonesia sendiri punya satu turnamen tahunan di Januari. Yakni Indonesia Masters BWF World Tour Super 500.

Sekretaris Jenderal PP PBSI, Achmad Budiharto mengatakan bahwa dengan adanya turnamen seri Asia di Thailand pada Januari 2021 nanti, kemungkinan besar Indonesia Masters tidak akan bisa dilaksanakan. Sebab, BWF kini menggunakan pola penyelenggaraan banyak turnamen di satu negara untuk menghindari perpindahan tim dari satu negara ke negara lain yang dianggap tidak efektif dan tidak aman di masa pandemi virus korona.

sumber dan kutipan dari djarumbadminton.com

PBSI Masih Belum Pasti, Pertimbangkan Nasib Kejurnas dan Promosi-Degradasi

5 October 2020 PBSI Masih Belum Pasti, Pertimbangkan Nasib Kejurnas dan Promosi-Degradasi

Jakarta | Ada tiga agenda penting yang mesti dilaksanakan Pengurus Pusat Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia (PP PBSI) pada akhir tahun ini. Yakni menggelar Kejuaraan Nasional (Kejurnas), Promosi-Degradasi atlet Pelatnas hingga Musyawarah Nasional/Musyawarah Kerja Nasional. Namun nasib ketiga agenda tersebut masih belum pasti lantaran pandemi virus korona yang belum kunjung mereda hingga saat ini.

Apalagi, masa kepengurusan PP PBSI dibawah pimpinan Ketua Umum Wiranto akan kedaluarsa pada 2020 ini. Jika mengacu pada jadwal, seharusnya akhir tahun ini diselenggarakan Musyawarah Nasional (Munas) PBSI untuk memilih pemimpin induk organisasi bulutangkis Indonesia hingga empat tahun ke depan.

Pandemi virus korona membuat pengurus PP PBSI tidak bisa menyelenggarakan Munas secara langsung. Karena itu, PP PBSI melayangkan surat kepada Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) untuk menangguhkan pelaksanaan Munas hingga enam bulan ke depan dari jadwal semula.

“KONI sudah mengirim surat untuk mengingatkan PBSI mengenai periode kepengurusan yang selesai akhir tahun ini. Tapi waktu itu wabah Covid-19 belum berkembang. Setelah ada pandemi dan melihat situasi, ketua umum meminta izin perpanjangan paling lama selama enam bulan, dan sampai sekarang kami belum mendapat jawaban dari KONI,” kata Sekretaris Jenderal PP PBSI, Achmad Budiharto dalam siaran pers PP PBSI yang diterima Djarumbadminton.com.

Pelaksanaan Munas di penghujung tahun akan membawa perubahan pada komposisi pengurus di tubuh PBSI yang biasanya juga akan berpengaruh pada komposisi pelatih dan atlet di pelatnas. Hal inilah yang harus diantisipasi, mengingat kemungkinan tahun depan akan banyak sekali major events yang bakal dihelat Piala Thomas & Uber, Piala Sudirman, Kejuaraan Dunia hingga Olimpiade.

Sementara itu, batalnya sebagian besar turnamen di tahun ini membuat PP PBSI juga kesulitan menentukan kriteria promosi dan degradasi Pelatnas. Salah satu tolok ukur atlet adalah pencapaian mereka di beberapa turnamen yang mereka ikuti. Namun, dengan tanpa adanya turnamen, PP PBSI tidak punya dasar yang kuat untuk merumuskan penilaian tersebut.

“Situasi saat ini masih tidak menentu, jadi semua saling menunggu, belum ada keputusan mengenai promosi dan degradasi. Kalau menurut AD/ART seharusnya ada promosi dan degradasi di setiap akhir tahun, tapi kami sulit menentukan dasarnya karena atlet tidak mengikuti turnamen,” tuturnya.

Pencapaian di Kejuaraan Nasional yang sejauh ini menjadi salah satu penilaian dalam promosi dan degradasi Pelatnas, juga tidak bisa jadi acuan. Sebab, Kejurnas sendiri belum pasti bisa dihelat, lagi-lagi karena virus korona.

Selain itu, PP PBSI juga mangantisipasi padatnya rencana pertandingan di tahun depan dengan menyusun strategi pengiriman pemain dengan skala prioritas. “Pertama, kami harus lihat dulu jadwal dari BWF seperti apa, dari situ bisa ditentukan strategi untuk menentukan target-target yang utama,” tutup Budiharto.

Prioritas utama PP PBSI di 2021 mendatang tentunya adalah olimpiade. Lalu Piala Thomas & Uber serta Piala Sudirman. Selanjutnya, PP PBSI juga akan tetap fokus untuk kejuaraan-kejuaraan perorangan seperti Kejuaraan Dunia dan All England.

BWF Coba Bangun Situasi Terbaik untuk Menjalankan Turnamen

4 October 2020 BWF Coba Bangun Situasi Terbaik untuk Menjalankan Turnamen

Jakarta | Beberapa hari lalu, Federasi Bulutangkis Dunia (BWF) menggelar konferensi pers virtual bersama sejumlah media di seluruh dunia. Presiden BWF, Poul-Erik Hoyer, Wakil Presiden BWF, Khunying Patama Leeswadtrakul dan Sekretaris Jenderal BWF, Thomas Lund turut hadir sebagai pembicara dengan pembahasan bagaimana menjalankan kembali turnamen di tengah kondisi pandemi yang belum mereda.

BWF terus berupaya untuk kembali menggelar kompetisi meski masih berada dalam situasi pandemi. Induk organisasi bulutangkis dunia itu sejatinya sudah merencanakan sejumlah turnamen pada Oktober dan November mendatang. Namun pada akhirnya, BWF terpaksa menangguhkan putaran final Piala Thomas dan Uber 2020 dan tiga turnamen seri Asia 2020 ke tahun depan.

Meski begitu, BWF dikabarkan bakal tetap menggelar Denmark Open 2020 BWF World Tour Super 750 yang rencananya berlangsung di Odense pada 13 hingga 18 Oktober mendatang.

Poul-Erik Hoyer menyampaikan rasa simpatinya kepada semua pihak yang terdampak ditiadakannya turnamen sebagai salah satu akibat dari wabah virus korona, khususnya kepada para atlet yang sudah hampir delapan bulan tidak bertanding.

“Tentu saja saya berharap bulutangkis bisa kembali lagi, namun turnamen tidak bisa berjalan di bulan Oktober, tidak diragukan lagi bahwa semua ingin turnamen kembali berjalan. Kami ada di sini untuk para pemain, kami berusaha agar turnamen bergulir lagi,” kata Poul-Erik Hoyer sebagaimana siaran pers PP PBSI yang diterima Djarumbadminton.com.

Sementara itu, pebulutangkis ganda putra Indonesia, Hendra Setiawan mengatakan bahwa keputusan para pemain Indonesia untuk tidak ambil bagian pada ajang putaran final Piala Thomas dan Uber 2020 telah dipertimbangkan matang-matang. Hendra cs berharap besar jika situasi di tahun depan bisa membaik, seiring dengan persiapan penyelenggara yang lebih komprehensif. Mengingat ini adalah turnamen yang melibatkan banyak pemain dari berbagai negara.

“Kalau tahun ini kami memang belum berani untuk menempuh perjalanan jauh seperti ke Eropa. Sambil dilihat juga tahun depan seperti apa. Kemungkinan sih tahun depan akan bisa mulai lagi. Protokol kesehatan yang diterapkan negara penyelenggara juga menjadi salah satu faktor yang membuat pemain merasa aman untuk bertanding,” ungkap Hendra Setiawan.